Kenalan

Asyah

Diterbitkan di: on 25 Mei 2009 at 11:59 Tinggalkan sebuah Komentar
Tags:

Karyaku

abdiKaryaku 2Karyaku 1

Diterbitkan di: on 16 Mei 2009 at 10:20 Tinggalkan sebuah Komentar
Tags:

Mental Pemuda Indonesia

Pemuda Indonesia, Mental Pekerja atau Pengusaha?

Oleh : BAYU HALIM FIRDAUS

Mengapa tak jemu-jemu kita melihat mahasiswa yang baru saja lulus sebagai sarjana membuat lamaran pekerjaan hingga berpuluh-puluh dan mengantri berjam-jam untuk memasukkannya di setiap perusahaan? Serta menunggu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menerima panggilan? Jawabannya sangat mudah, karena mereka menginginkan sebuah pekerjaan guna mewujudkan masa depannya. Pertanyaan kontroversial yang sering terjadi di masyarakat adalah, mengapa mewujudkan masa depan selalu identik sebagai pekerja? Padahal, ‘Setiap pekerja berpeluang kehilangan pekerjaan’.

Itulah judul dari tulisan Valentino Dinsi yang dimuat di majalah Entrepreneur Indonesia edisi 7/3-7/4 2005. Ia seorang pengusaha yang sedang gencar menyemarakkan jiwa kewirausahaan di Indonesia dengan bukunya yang berjudul Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian. “Ada 45, 2 juta pengangguran yang ada di Indonesia, dan dari jumlah tersebut, sekitar 2.650.000 adalah penganggur terdidik lulusan perguruan tinggi. Dari jumlah penganggur terbuka, 65, 71% boleh dikatakan penganggur terdidik yang berpendidikan. ” Ujar Valentino dalam tulisan tersebut.

Apakah mewujudkan masa depan selalu dengan cara menjadi pekerja? ‘Sedangkan dunia kerja dan industri ternyata hanya bisa menyerap 10% hingga 15% output dunia pendidikan, dan sisanya kebanyakan menganggur.’

Bagaimana dengan menjadi seorang pengusaha? Banyak dari para penganggur terdidik yang tidak mendapatkan pekerjaan akhirnya mencoba sambilan membuka usaha, dan menjadi seorang yang sukses membangun imperium bisnisnya. Bahkan begitu banyak para pengusaha sukses baik di dunia maupun di Indonesia tanpa memiliki gelar pendidikan. Sebut saja Bob Sadino yang terkenal dengan celana pendeknya, bos dari Kemchicks Group, dan Purdi E. Chandra, Direktur Utama Yayasan Primagama. Dua orang tersebut adalah contoh kecil dari banyak pengusaha yang berhasil setelah melewati tahap dari banyak sekali pengusaha yang gagal.

Mengapa mayoritas dari kita lebih condong menjadi seorang pekerja daripada menjadi pengusaha? Mental apakah yang ditanamkan pada diri kita ini?

Sejak penjajahan yang begitu lama dan kejam, kurang lebih tiga setengah abad, mental orang-orang Indonesia kebanyakan menjadi mental pekerja.

Saya ingat betul saat duduk di sekolah dasar, saat dimana saya diajarkan tentang berkehidupan untuk pertama kalinya. Belajar mengenal hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Lucunya ada beberapa guru yang membuang sampah sembarangan, padahal baru saja pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) selesai. Wajar saja jika banyak sampah berserakan persis di bawah slogan ‘Jangan membuang sampah sembarangan, buanglah sampah pada tempatnya.’ Karena mungkin kita terbiasa dengan didikan sudah cukup dengan mengetahui sebuah kebenaran, tentang apa yang kita lakukan itu soal belakangan. Kita sering dididik dengan seseorang yang hanya tahu kebenaran, terlepas mereka seorang guru, dosen, orang tua, teman bahkan orang yang tidak kita kenal.

Pengetahuan adalah energi potensial, yang hanya dapat bisa dinikmati kekuatan aslinya jika diubah menjadi energi kinetik. Dengan kata lain, seluruh pengetahuan yang kita miliki tidak berguna sepenuhnya jika kita tidak dapat aplikasikan. Mungkin Anda seorang yang hapal sekali buku ‘Cara Mudah Belajar Berenang’ dan mendapatkan nilai A untuk seluruh mata kuliah tersebut, baik tes tulis maupun lisan. Pertanyaan selanjutnya, jika disuguhkan sebuah kolam renang apakah Anda dapat langsung berenang? Mungkin jawaban anda sendiri adalah tidak.

Mengapa Anda tidak mengatakan kepada anak Anda, “Anakku, engkau dapat menjadi seorang presiden! Kamu bisa menggenggam dunia anakku! Kamu bisa menjadi seorang penemu besar anakku! Kamu bisa membuat kerajaan bisnismu sendiri anakku, sehingga kamu bisa lebih banyak beramal dan beribadah, Dan seterusnya.” Bukan hanya sekedar mengatakan, belajarlah yang sungguh dan raihlah pekerjaan yang layak. Liarkan impian Anda, bebaskan pikiran Anda, karena anak Anda teramat istimewa untuk hanya menjadi seorang pekerja. Atau sejak awal Anda tidak percaya bahwa anak Anda adalah luar biasa?

Sebenarnya para penerus bangsa ini adalah mereka yang mempunyai gagasan dan kemauan yang besar, tak terkecuali anak anda. Namun mereka bingung entah kemana harus bertanya. Lama-lama impian mereka habis terkikis. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Sekarang coba Anda bayangkan, Anda adalah seorang yang duduk di SMU kelas 3. Sedang kebingungan memilih jurusan untuk kuliah. Anda bertanya kepada kakak Anda yang sedang mengambil semester pendek lantaran nilainya yang buruk. Kakak anda berkata, “Jangan ambil jurusan ini Dik, susah sekali!” Bahkan kakak Anda dengan yakin sekali berkata “Kakak kenal sekali siapa kamu Dik.” Lalu seketika Anda menghapus jurusan itu di benak Anda. Dan seketika pula Anda berkenalan dengan seorang yang cumlaude dan dengan segera menjadi orang yang sukses di jurusan yang sama dengan jurusan kakak anda. Dan dia menganjurkan jurusan itu untuk Anda ambil karena ia mendapatkan hal yang baik dan luar biasa dari jurusan itu. Pertanyaannya, Anda pilih saran yang mana?

Kebanyakan dari kita akan lebih memilih mendengarkan seseorang yang gagal, apalagi orang gagal tersebut mempunyai pengaruh dalam hidup kita.

Era Informasi

Sejak tembok Berlin diruntuhkan, para sejarawan sepakat bahwa di situlah akhir dari era industri dan memasuki fajar era informasi. Saat era industri, dapat dikatakan selembar ijasah yang kita dapatkan dari perguruan tinggi menjadi suatu ‘mukjizat’ untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Karena pada saat itu banyak perusahaan yang baru berdiri dan sedang membutuhkan banyak sekali tenaga kerja. Namun di era informasi saat ini, lembaran ijasah yang kita miliki bukanlah menjadi suatu ‘mukjizat’ lagi.

Penulis bukan ingin mengatakan bahwa gelar pendidikan tidaklah penting, hanya ingin menekankan bahwa dunia dan aturannya telah berubah. Dan untuk mewujudkan masa depan kita tidak harus selalu menjadi seorang pekerja.

Perubahan dunia yang tidak disadari oleh para orang tua yang lahir di era industri menyebabkan nasihat-nasihat yang diberikan adalah nasihat-nasihat untuk di era industri. Yakni belajar yang giat, mendapatkan nilai yang bagus, dan mencari pekerjaan. Alangkah baiknya jika ide-ide menakjubkan yang kita dapatkan di perguruan tinggi dapat diaplikasikan guna pembangunan bangsa ini. Sehingga kreatifitas anak bangsa tidak berujung pada selembar kertas kelulusan, bahkan terkikis dan terkurung akibat tekanan mental yang diterima sebagian besar mahasiswa yang memilih sebagai pekerja.

Di era informasi ini, kita harus dapat mencium peluang-peluang yang ada di depan kita. Banyak orang mengatakan bahwa peluang itu sangatlah sulit sekali didapatkan, padahal ribuan peluang bertebaran tepat di depan pelupuk matanya. ‘Bukan mereka tidak bisa melihat, terkadang mereka yang tidak ingin melihatnya.’

Bahkan sekarang dapat dikatakan mudah sekali menjadi seorang yang sukses sebagai pengusaha dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dan akan sangat sulit sekali menjadi seorang pekerja di masa kini dan mendatang. Banyak para pengamat ekonomi memprediksikan apa dampak dari globalisasi dunia dan AFTA (asean free trade area) di Indonesia. Dengan bersaingnya sumber daya manusia dari negara luar, para tenaga ahli Indonesia harus menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Namun sayangnya kita sangat sulit sekali mendapatkan pendidikan yang layak dan bersaing di Indonesia. Dan akan banyak perusahaan yang memakai sistem kontrak, sehingga rasa ‘aman’ berupa jaminan-jaminan yang menjadi daya tarik dari pekerjaan menjadi pudar dan mengkhawatirkan.

Dengan banyaknya informasi yang kita terima mengenai perubahan yang terjadi di dunia, serta apa yang sedang terjadi di negeri Indonesia ini, kita tidak bisa mengatakan “kita tidak tahu..!” dan akhirnya ketinggalan langkah ketika bangsa lain mulai melihat potensi yang ada di Indonesia dan menggalinya. Sedangkan putra-putri Indonesia hanya menganga tak berdaya melihat pendatang sukses di negeri sendiri.

Penulis, mahasiswa FIKOM UNPAD

tinggal di Jatinangor.

bayu (2)

Dijual

forest-3 copyJual amp & Gitar

Diterbitkan di: on at 09:46 Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,

Kata mutiara

Tak ada orang yang terlalu miskin sehingga tidak bisa memberikan pujian. – Anonim

Kesehatan selalu tampak lebih berharga setelah kita kehilangannya. – Jonathan Swift

Kita tidak bisa menjadi bijaksana dengan kebijaksanaan orang lain, tapi kita bisa berpengetahuan dengan pengetahuan orang lain. – Michel De Montaigne

Seorang konsultan psikologi paling jenius sekalipun tidak lebih mengerti tentang pikiran dan keinginan kita lebih daripada diri kita sendiri. – Anonim

Salah satu fungsi diplomasi adalah untuk menutupi kenyataan dalam bentuk moralitas. – Will Dan Ariel Dunant

Do all the goods you can, All the best you can, In all times you can, In all places you can, For all the creatures you can. – Anonim

Yang terpenting dari kehidupan bukanlah kemenangan namun bagaimana bertanding dengan baik. – Baron Pierre De Coubertin

Yang terpenting dalam Olimpiade bukanlah kemenangan, tetapi keikutsertaan … – Baron Pierre De Coubertin

Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda di lima tahun mendatang, kecuali dua hal : orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca. – Charles “tremendeous” Jones

Jika pekerjaan Anda lenyap, jati diri Anda tidak akan pernah hilang. – Gordon Van Sauter

Jangan biarkan jati diri menyatu dengan pekerjaan Anda. – Gordon Van Sauter

Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka; namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka. – Alexander Graham Bell

Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan. – Thomas A. Edison

Sumber kekuatan baru bukanlah uang yang berada dalam genggaman tangan beberapa orang, namun informasi di tangan orang banyak. – John Naisbitt

Uang merupakan hamba yang sangat baik, tetapi tuan yang sangat buruk. – P.t. Barnum

Ingatlah, semua ini diawali dengan seekor tikus, Tanpa inspirasi…. kita akan binasa. – Walt Disney

Jika Anda dapat memimpikannya, Anda dapat melakukannnya. – Walt Disney

Bahkan kritik dapat membangun rasa percaya diri saat “disisipkan” di antara pujian. – May Kay Ash

Kejujuran adalah batu penjuru dari segala kesuksesan, Pengakuan adalah motivasi terkuat. – May Kay Ash

Kepemimpinan adalah Anda sendiri dan apa yang Anda lakukan. – Frederick Smith

Diterbitkan di: on at 09:42 Komentar (2)
Tags:

otomotif

isi posting ini berisi tentang hal yang berhubungan dengan Otomotif, jika ingin tau lebih lanjit klik disini,

Sementara ini, isinya baru ini dulu, Maaf!

Diterbitkan di: on 2 Mei 2009 at 13:30 Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: